Pengumpan RSS

Gaji Presiden

KONON, pedagang kain di pasar ternyata bisa jadi kepala negara. Presiden bahasa modernnya, atau khalifah istilah politik dalam pemerintahan Islam. Sehingga setelah jadi presiden pun kebiasaan jualan kain masih dilakoni. Rupanya presiden yang satu ini jauh beda dengan presiden-presiden yang lain.

Ketika hendak ke pasar jualan kain seperti biasanya, sang presiden berpapasan dengan sahabat karibnya; sebut saja umar. Dengan bahasa akrabnya Pak Umar menyapa: “Hendak kemana, Pak Presiden?”, “Biasa, kegiatan rutin. Jualan kain ke pasar”, sahut sang presiden. “Wah, wah, wah, kalau sibuk dagang begini, bagaimana dengan urusan negara?”, “Tapi aku kan harus memberi nafkah kepada keluargaku,” sanggahnya. “Sudahlah, sebaiknya kita pergi ke Bendeharawan Negara, biar dia yang memberikan jalan keluar masalah ini,” usul Pak Umar. Akhirnya, gaji sang presiden ditetapkan sebagai kompensasi pemenuhan kewajibannya mengurus negara. Sejak saat itu aktivitas bisnisnya berhenti.

Suatu saat nyonya presiden mengemukakan keinginannya: “Aku ingin banget makan manisan, bisakah nanti pulang dinas aku dibelikan manisan.” “Saya tidak punya duit untuk itu” tutur sang presiden kepada istrinya. “Kalau demikian akan aku sisihkan uang sedikit-sedikit, nanti jika sudah terkumpul akan aku titipkan beli manisan.” Sang presiden tidak menolak dan tidak mengiyakan rayuan istrinya.

Benar, di saat lain nyonya presiden menyerahkan uang kepada suaminya dengan maksud agar dibelikan manisan. Sambil pamit pergi ke kantor sang presiden bertanya: “Dari mana duit yang kau titipkan untuk beli manisan ini?” “Saya menisihkan sedikit demi sedikit dari uang belanja yang engkau berikan.” Lalu pergilan sang presiden menuju kantor. Sesampainya di kantor, dipanggillah Bendaharawan Negara, Abu Ubaidillah. Sambil menyerahkan amplop presiden menyatakan: “Ini adalah uang kelebihan gaji saya, tolong masukkan kembali ke kas negara dan mulai bulan depan gaji saya kurangi sebesar yang saya kembalikan ini.”

Usai jam kerja sang presiden bergegas pulang. Dan nyonya presiden sudah menunggu-nunggu manisan yang dipesannya tadi pagi. Benar, sesampainya di rumah, sang presiden langsung ditanya : “Mana manisan pesananku?” Dengan penuh kearifan sang presiden berkata:

“Istriku, uang belanja yang aku berikan kepadamu itu berasal dari kas negara. Selama ini masakan yang engkau berikan kepadaku dan anak-anak sudah cukup. Toh kamu masih bisa menyisihkan uang yang tadi pagi diserahkan kepada saya untuk beli manisan. Saya berkesimpulan, bahwa gaji yang aku terima dari negara itu lebih dari cukup untuk kebutuhan di rumah. Itu sebabnya uang tadi saya kembalikan kepada Bendaharawan Negara. Dan saya telah minta agar mulai bulan depan gaji saya dipotong sebesar yang aku kembalikan itu.”

———————————————————————

Cerita ini saya copast dari buku KISAH-KISAH TELADAN AHLI SURGA Karangan KH. YUSUF MUHAMMAD, SQ.

Itulah kesederhanaan dan kehati-hatian Abu Bakar al Shiddiq, khalifah sepeninggal Rasulullah SAW.

Tentang elfieriani

let me introduce my self ;p ... saya satu2nya putri dari tiga bersaudara, alhamdulillah sampai saat ini Allah masih perkenankan saya untuk menemani ayah dan ibu (apa ga kebalik ya hehe).. semoga Allah terus beri saya kesempatan untuk berbakti pada ayah dan ibu.. aminnnn

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s